CerCur: Kisah Rahwana Dan Negeri Alengka -Episode3-

Rahwana & Hanoman by wayang.wordpress.comCerita sebelumnya di ‘Kisah Rahwana dan Negeri Alengka’:
Kita tinggalkan kericuhan yang terjadi di Istana Kahyangan dan kembali ke TKP, yaitu peperangan antara pasukan Rahwana dan prajurit Negeri Alengka.

Tak pernah terpikirkan jikalau negeri Alengka yang begitu indah akan menjadi medan perang yang menumpahkan banyak kotoran. Satu-persatu para prajurit dari kedua belah pihak saling berguguran karena kebauan. Gerbang istana hancur, rumah-rumah penduduk roboh, taman bermain porak-poranda, konser grup band GIGI pun terpaksa dibatalkan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Akhirnya peperanganpun mencapai klimaksnya, para prajurit Alengka yang kehabisan “peluru” (taukan yang dimaksud) dan kalah dalam jumlah dari prajurit Rahwana terpaksa harus menyerah tanpa sarat. Dengan menyerahnya prajurit Alengka, kemenangan gemilang pun diraih oleh prajurit Rahwana.

Tibalah waktunya untuk sang raja menduduki singgasana kerajaan Alengka.

Upacara pengangkatan raja diselenggarakan dengan tertib dan hikmat, penduduk Alengka pun ikut berpesta dalam penyelenggaraan itu, seolah tidak pernah terjadi peperangan dahsyat di negerinya. Makanan dan minuman enak dipersembahkan oleh Demang-demang negeri Alengka untuk sang Raja Rahwana. Jika ada pengangkatan Raja baru, biasanya para demang memang selalu memberikan persembahan, entah itu makanan enak, baju-baju mewah, gandum hasil pertanian, bahkan Anak perempuannya sendiri, agar bisa diperistri oleh sang Raja.

Narator sempat mewawancarai salah seorang penduduk Alengka untuk menanyakan perasaan mereka setelah negerinya dikuasai oleh Rahwana.

Narator: “Bagaimana perasaan kisanak setelah negeri Alengka ini jatuh ketangan Rahwana? Dan sepertinya kisanak bergembira sekali mengikuti jalannya Upacara Pengangkatan Raja ini. Apa kisanak tidak marah negeri kisanak direbut?”

Penduduk Alengka: “Ehm, kulo sih ndak masalah ya siapa yang jadi Raja di Alengka ini”, “Asalkan koe masih bisa bolak-balik ke Bali untuk nonton Tenis sih, Everything is fine-fine sajah buat kulo”.

Upacara pengangkatan raja itu berlangsung selama tiga hari tiga malam dengan berbagai acara yang menarik untuk diikuti, berbagai nyanyian puja-puji dilantunkan oleh sinden istana, tari-tarian dipertontonkan untuk menghibur rakyat Alengka, mulai dari tarian khas Jawa Barat yaitu tari Jaipong, tari Saman dari Aceh, tari Piring dari Sumatera Barat, tari Kecak dari Bali, tari Tango, tari Balet, Modern Dance, bahkan satu lagi tarian yang sangat digemari oleh para rakyat negeri Alengka, yaitu Cut Tari.

Namun dalam semaraknya upacara pengangkatan raja itu, seorang prajurit melapor pada Mahapatih Kumbakarna. Kumbakarna adalah adik kandung Raja Rahwana. Kumbakarna memiliki perawakan yang sangat tinggi dan berwajah seram, namun sifatnya patriotisme dan dia biasa menasehati kakaknya Rahwana jika Rahwana melakukan kesalahan.

Sebenarnya Kumbakarna bukanlah salah satu dari Patih kerajaan Rahwana, Kumbakarna hanya ngefans berat sama grup band “Kerispatih”, karena itu dia disebut ‘Mahapatih Kumbakarna’.

Prajurit: “Lapor tuanku Mahapatih Kumbakarna.”

Kumbakarna: “Ya, ada apa prajurit.” Jawab Kumba dengan gagahnya.

Prajurit: “Mohon ampun Tuanku Mahapatih Kumbakarna, tapi semenjak dari mulainya peperangan hingga upacara pengangkatan raja sekarang ini, hamba tidak melihat Paduka Raja Rahwana.”

Kumbakarna: “APA!!!.”

Teriak Kumbakarna pada prajurit tersebut. Konon teriakannya menggetarkan seluruh lemari yang ada di Istana Alengka.

Kumbakarna: “Cepat perintahkan seluruh pasukan untuk mencari Raja Rahwana sampai ketemu”. Teriaknya dengan nada tegas.
“Aku akan tidur dulu, bangunkan aku jika Rahwana sudah ketemu.”

Mahapatih Kumbakarna mendapatkan anugerah dari Dewa Brahma atas pertapaannya yang khusu bersama Rahwana dahulu. Kumba dianugerahi untuk ‘tidur selama  enam bulan dan bangun selama enam bulan’. Sebenarnya bukan itu permintaan yang diinginkan oleh Kumbakarna.

Alkisah dahulu kala, Rahwana dan Kumbakarna melakukan tapa dan pemujaan pada Dewa Brahma agar diberikan anugerah. Dewa Brahma pun berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan dan akan mengabulkan masing-masing satu permintaan.

Dewa Brahma bertanya pada Rahwana terlebih dahulu.

Dewa Brahma: “Hai Rahwana, aku akan mengabulkan satu permintaan yang kau ucapkan, katakanlah apa permintaanmu?”

Rahwana: “Pengen ganteng!!” dengan polosnya Rahwana mengajukan permintaanya.

Dewa Brahma pun lalu termenung dan seketika tertawa terbahak-bahak.

Dewa Brahma: “Wok owok owok, MIMPI!!” Tandas Dewa Brahma.

Brahma melanjutkan perkataannya.

Dewa Brahma: “Baiklah sebagai pengganti permintaanmu yang tadi, aku akan memberikanmu kekebalan terhadap berbagai senjata.”

Dewa Brahma pun memberikan anugerahnya pada Rahwana. Dan tibalah giliran Kumbakarna untuk mengucapkan permintaannya.

Dewa Brahma: “Sekarang giliranmu Kumba, permohonan apa yang kau ingin aku kabulkan?”

Dengan sangat hati-hati Kumbakarna hendak mengucapkan permohonannya. Kumbakarna menginginkan tahta Dewa Indra diberikan padanya.
Namun apa yang terjadi, sebelum mengucapkan permohonannya dengan jelas, Dewi Saraswati datang dan mengagetkan Kumbakarna.

Dewi Saraswati: “HAAYYYOOO.”

Kumbakarna yang entah kaget atau gergeran sontak mengucapkan.

Kumbakarna: “Neendrasan, neendrasan, neendrasan”

Tanpa sengaja Kumbakarna salah mengucapkan permohonannya, yang tadinya dia ingin mengucapkan ‘Indraasan’ (Tahta Dewa Indra) malah jadi mengucapkan ‘Neendrasan’ yang artinya Tidur Abadi.
Dewa Brahma pun mengabulkan permohonan Kumbakarna.

Rahwana yang berhati lembut tidak tega melihat adiknya tidur abadi.

Rahwana: “Kasihan adikku Kumbakarna, dia mendapatkan anugerah untuk tidur abadi.” Keluh Rahwana dalam hati.
“Iya, tidak apa-apa jika dia tidur abadi seperti biasa, tapi bagaimana kalau nanti dalam tidur abadinya dia ‘bermimpi basah’?”

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya Rahwana meminta pada Dewa Brahma untuk membatalkan permohonan Kumbakarna. Namun Dewa Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugerahnya, Brahma hanya meringankan anugerah tersebut agar Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan.

Kembali ke cerita awal. Setelah mendapat titah dari sang Mahapatih Kumbakarna, para prajurit lalu membentuk beberapa tim SAR untuk menyisir seluruh kota dikerajaan Alengka. Berminggu-minggu tim SAR menyisir kota, namun tidak mendapatkan jejak apa-apa mengenai Raja Rahwana. Hingga pencarian hampir saja dihentikan.

Terdengar suara percakapan para prajurit yang melewati tumpukan kotoran hasil peperangan selama berminggu-minggu.

Prajurit 1: “Kemana kira-kira paduka Raja menghilang yah??”

Prajurit 2: “Iyah, tuh Paduka Raja udah wajahnya ancur, bau badan, nyusahin lagi”

Percakapan mengenai hilangnya Raja Rahwana itu pun terus berlangsung. Sementara Prajurit 3 yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan teman-temannya menoleh ke tumpukan kotoran tadi, dalam benaknya dia berkata.

Prajurit 3: “Apa mungkin paduka Raja tertimbun didalam tumpukan kotoran itu?” Pikir prajurit.
“Ahh, Gak mungkin, Gak mungkin,” “Mana ada seorang Raja tertimbun tumpukan kotoran, hahaha”

Sambil tertawa lepas prajurit itu lantas pergi makan Ramen bersama Prajurit lainnya.

>> bersambung…😉

_________________________________________________________________________

Cerita ini hanyalah fiktif dan karangan Fauzi semata, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, cerita, baju, celana, gaya rambut, kumis, dan yang lainnya, mohon dimaafkan. Cerita ini juga TIDAK dimaksudkan untuk menghina, memojokan, mencela suatu Agama, Kelompok, Masyarakat, Presiden, Pak Haji, dan RT/RW setempat.
Mohon jangan mencela CerCur (Cerita anCur) ini jika tidak berkenan dengan selera humor sodara-sodari, sayah hanya mengutarakan ide dalam otak sayah.

Copyright and Original Story by Fauzi, jika anda baca CerCur seperti ini di blog atau situs lain, itu berarti mereka CoPas dari sini. (PD, kayak ada aja yang mau CoPas):mrgreen:

Gambar by wayang.wordpress.com

2 Tanggapan to “CerCur: Kisah Rahwana Dan Negeri Alengka -Episode3-”

  1. Asop Says:

    *baca dua kali*😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: