CerCur: Kisah Rahwana Dan Negeri Alengka -Episode2-

Rahwana Pensiun by wayang.wordpress.com

Cerita sebelumnya di ‘Kisah Rahwana dan Negeri Alengka’:
Peperangan yang berlangsung berminggu-minggu antara prajurit Rahwana dan prajurit Alengka sangatlah dahsyat, ‘senjata’ yang mereka gunakan benar-benar mengguncang daratan bumi dan lautan. Bahkan aroma dari senjata yang mereka pakai tercium sampai ke Istana para Dewa di Kahyangan.

Pada waktu yang sama ditempat berbeda, yaitu di Instana para Dewa di Kahyangan. Dewa-dewa sedang melakukan tapa berjamaat yang rutin dilakukan pada saat akhir bulan. Tapa berjamaat itu dihadiri petinggi-petinggi Dewa, seperti Dewa Brahma, Dewa Shiwa, Dewa Wisnu, Dewa Yama, Dewa Ganesha, dan banyak dewa-dewa yang lainnya.

Dewa Ganesha yang berwujud seekor gajah memiliki hidung panjang dan penciuman tajam merasa terganggu oleh bau-bau aneh yang ada diruangan pertapaan. Ganesha dikenal sebagai Dewa Pengetahuan, oleh karena itu dia lah yang pertama mengetahui bau-bau aneh yang masuk ke Istana Kahyangan.

Ganesha pun menanyakan pada sang Ayahanda, yaitu Dewa Shiwa sang Dewa Penghancur. Gerangan bau apakah yang diciumnya.

Dewa Ganesha: “Mohon ampun Ayahanda, bukan maksud hamba mau mengganggu tapa khusu Ayahanda, tapi hamba mencium bau-bau aneh yang kurang sedap didalam ruangan ini.”

Dewa Shiwa: “Bau aneh, apakah itu wahai anakku? coba ayah cium dulu.”

Dewa Shiwa pun mencium bau aneh yang sama dengan Ganesha.

Dewa Shiwa: “Benar wahai anakku Ganesha, diruangan ini ada bau-bau aneh tak sedap.”

Dewa Shiwa yang terkenal pemarah dan tidak sabaran lantas menuduh Dewa Brahma kentut. (Maklum, Dewa Shiwa adalah Dewa Penghancur.)

Dewa Shiwa: “Hai engkau Brahma, apa kau tidak bisa menahan kentutmu sebentar hingga tapa berjamaat ini selesai.”

Lantang Dewa Shiwa pada Dewa Brahma, menyebabkan para Dewa lainnya tersadar dari pertapaannya. Dewa Brahma yang tidak tahu apa-apa langsung kaget mendengar tuduhan Dewa Shiwa.

Dewa Brahma: “Apa maksudmu Shiwa?”

Dewa Shiwa: “Jangan belaga pilon deh Brahma, Aku tahu kalau kau yang kentut dan menyebabkan bau-bau aneh ini”

Dewa Brahma: “Seenaknya saja kau menuduhku, Shiwa.” Geram Dewa Brahma.

Brahma pun beranjak dari tempat pertapaannya sembari memegang Gada besarnya, Brahma pun melanjutkan penyangkalannya.

Dewa Brahma: “Aku tidak pernah kentut didepan orang banyak, apalagi ketika sedang bertapa berjamaat seperti ini”

Dewa Yama: “Berarti klo lagi gak ada orang, sering kentut dong, hehehe.”

Celetuk Dewa Yama menyebabkan wajah Dewa Brahma semakin memerah karena malu. Brahma pun semakin merasa disudutkan atas perbuatan yang tidak dia lakukan.

Dewa Brahma: “Diam kau Yama.” bentak Brahma pada Yama.
“Ahh, mungkin kau yang tadi kentut dan menyebabkan bau aneh ini, di Istanamu kan Toiletnya kotor dan suka mampet, jadi mungkin kamu tidak setor selama beberapa minggu.” Tuduh Dewa Brahma pada Dewa Yama.

Dewa Yama adalah Dewa Akhirat dan penjaga Neraka yang biasa mengadili roh-roh orang mati. Dewa Yama pun murka karena dituduh oleh Dewa Brahma. Kedua Dewa ini memang tidak pernah rukun sejak dulu.
Berawal dari semasa mereka masih remaja.

Dahulu kala di Istana Kahyangan ada sebuah pesta besar, para penghuni kahyangan bersuka cita dan penduduk bumi pun bergembira ria, tak lain dan tak bukan pesta itu adalah pesta ulang tahun Dewa Indra yang ke 17.

Di pesta itu berkumpul banyak Dewa dan Dewi dari seluruh Kahyangan, antara lain adalah ‘The Big Four Dewa’ bisa dibilang Big Four Dewa ini adalah F4 nya para Dewa, yang terdiri dari Dewa Wisnu, Dewa Shiwa, Dewa Brahma dan Dewa Surya. Para Dewi-dewi dari Kahyangan pun terkagum-kagum melihat mereka, antara lain, Dewi Durgha, Dewi Laksmi, Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan banyak Dewi-dewi lainnya yang simpang siur.

Suatu ketika, Dewa Brahma terpikat oleh kecantikan seorang Dewi dari Kahyangan, rambutnya hitam kemilau, kulit putih nan mulus, body bohai dan lenggak-lenggok jalannya yang gemulai, dia adalah Dewi Saraswati.

Tak hanya Brahma yang menyimpan hati pada Dewi Saraswati, Dewa Yama juga menyimpan hati padanya, bahkan mungkin bisa dibilang tergila-gila terhadap Dewi Saraswati. Disetiap dinding kamar Yama di Underworld terpajang photo cantik nan aduhai Dewi Saraswati.

Brahma mengetahui jikalau Yama menaruh hati pada Saraswati, begitu juga sebaliknya, Yama tahu kalau Brahma mau menggebet Saraswati. persaingan diantara merekapun dimulai.

Layaknya seorang pejantan tangguh yang mampu menyebrangi lautan dan mendaki gunung tertinggi untuk bertemu dengan Dewi-dewi, Dewa Yama mencoba mendekati Dewi Saraswati.

Dewa Yama: “Sendirian aja nih Neng, ikut abang Dangdutan yuk??”

Sontak saja Dewi Saraswati menjawab.

Dewi Saraswati: “NAJIS LOH!!!”

Ahh sayang sekali, terlalu lama Dewa Yama bergelut dengan pekerjaannya di Underworld menghukum roh-roh jahat sehingga dia kehilangan keromantisannya terhadap Dewi-dewi di Kahyangan.

Brahma pun maju menemui ‘pujaan hati belahan jantung penghibur lara’ Dewi Saraswati, meninggalkan Yama yang terdiam membisu berurai air mata dipojokan Istana.
Berbeda dengan Yama, Brahma adalah Dewa yang cukup romantis dan berwajah tampan. Brahma mulai memainkan silat lidahnya untuk mendekati Saraswati.

Dewa Brahma: “Hai, engkau wahai Dewi Cantik”, “Maukah kutemani engkau menghabiskan malam indah ini berdua bersamaku??”

Dewi Saraswati terpukau akan keromantisan dan ketampanan Dewa Brahma, namun dia tidak mau dicap sebagai ‘Dewi Gampangan’. Oleh karena itu dia sedikit agak jual mahal.

Dewi Saraswati: “Ehmm, Akoh mau ko menghabiskan malam ini bersamamuh” , “Asalkan kau ambilkan bulan itu untukkoh”
(gaya bicara Dewi Saraswati emang sedikit alay, maklum aja pada saat itu dia masih 16 tahon gitoh)

Tanpa pikir panjang, Dewa Brahma pun langsung pergi ke beranda Istana dan dengan kesaktiannya dia mengambilkan Bulan yang ada di hadapannya bagaikan memetik sebuah cabe dari tangkainya.
Kabar burung mengatakan, saat Dewa Brahma mengambilkan Bulan untuk Saraswati, pada saat yang bersamaan Dewi Saraswati bernyanyi mengiringi Dewa Brahma.

Dewi Saraswati: “Ambilkan ku bulan, ambilkan ku bulan…”

Lirik yang sebenarnya adalah “Ambilkan ku bulan” namun karena seiring bergantinya jaman, liriknya pun ikut berubah menjadi “Ambilkan bulan bu”.

Dengan diberikannya sebuah bulan oleh Brahma pada Saraswati. Akhirnya Saraswati pun menjatuhkan pilihannya pada Brahma. Layaknya di pesta-pesta barat, Brahma si ‘Pejuang Cinta’ mengajak Dewi Saraswati berdansa.

Dewa Brahma: “Should we..??” Brahma memberikan tangannya pada Saraswati.

Dewi Saraswati: “I do!!”

Brahma dan Saraswati pun menjadi pasangan yang paling romantis dipesta ulang tahun Dewa Indra itu, bagaikan Anang dan Syahrini dalam video klip terbarunya ‘Jangan memilih Aku’.

Dewa Yama yang murka melihat kemesraan Dewa Brahma dan Dewi Saraswati pun hanya bisa mengepalkan jari-jari tangannya dan memukul-mukul dada Dewa Wisnu.

Dewa Yama: “Jahat, jahat, jahat”.

Yama tidak berani membuat kekacauan di pesta ulang tahunnya Dewa Indra, karena dia adalah Dewa perang yang disegani dan bisa dibilang dia adalah Raja para Dewa.

Kembali ke cerita tentang keributan di Kahyangan.

Dewa Yama: “Kurang ajar kau Brahma, beraninya kau menuduhku kentut dan menghina toilet istanaku. Begini-begini juga toiletku tidak pernah mampet dan aku selalu setor setiap hari, paling lama gak setor juga 3 hari, gak sampe beberapa minggu.” Bentak Dewa Yama pada Dewa Brahma.

Keributan di Kahyangan pun semakin menjadi-jadi.

Dewa Yama: “Nah mungkin yang kentut itu si Ganesha, dia kan yang mencium pertama kali. ada pepatah mengatakan “Siapa yang mencium pertama kali berarti dia yang kentut”, dia cuma alibi saja bilang pada semua orang kalau dia mencium bau aneh, itu mah trick psychologis.”

Dewa Ganesha yang masih junior diantara para Dewa lainnya tidak berani membantah karena merasa ngeri melihat raut wajah Dewa Yama yang menakutkan (maklum, Dewa Yama kan mandor pabrik). Dewa Ganesha pun berlindung dibalik sosok Ayahandanya, Shiwa.

Dewa Shiwa tidak terima anak kesayangannya dituduh kentut, dia lalu menyodokan Trisula tajamnya ke bokong Dewa Yama, menyebabkan Dewa Yama tersungkur dan menabrak Dewa Brahma yang sedang memegang Gada besarnya.

Gada Dewa Brahma terjatuh dan menindih kuku kakinya yang ‘kengkeongeun’ (maaf sayah tidak tahu bhs. indonya kengkeongeun), sontak saja Dewa Brahma menjerit kesakitan. Dan Keributan di Kahyangan pun tidak terelakkan lagi.

Konon pada saat Dewa Brahma menjerit kesakitan karena kakinya tertindih Gada, guntur-guntur menyambar, angin topan bertiup dari selatan ke timur selama beberapa minggu.

Sementara itu, di sudut ruangan Istana, Dewa Wisnu hanya terdiam dengan muka yang dibanjiri keringat dingin. Dalam hatinya dia berucap.

Dewa Wisnu: “Yang tadi kentut pas pertapaan itu kan gua, cuman kentutnya juga kecil kok, dan gua gak yakin baunya bisa ampe ‘meuleukbeuk’ kayak gini”, “Gawat nih klo ampe Dewa yang lain tahu”.

Tapa berjamaat pun akhirnya ricuh tak karuan.

>> bersambung…😉

_________________________________________________________________________

Cerita ini hanyalah fiktif dan karangan Fauzi semata, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, cerita, baju, celana, gaya rambut, kumis, dan yang lainnya, mohon dimaafkan. Cerita ini juga TIDAK dimaksudkan untuk menghina, memojokan, mencela suatu Agama, Kelompok, Masyarakat, Presiden, Pak Haji, dan RT/RW setempat.
Mohon jangan mencela CerCur (Cerita anCur) ini jika tidak berkenan dengan selera humor sodara-sodari, sayah hanya mengutarakan ide dalam otak sayah.

Copyright and Original Story by Fauzi, jika anda baca CerCur seperti ini di blog atau situs lain, itu berarti mereka CoPas dari sini. (PD, kayak ada aja yang mau CoPas):mrgreen:

Gambar by wayang.wordpress.com

6 Tanggapan to “CerCur: Kisah Rahwana Dan Negeri Alengka -Episode2-”

  1. winalesmana Says:

    HEDUUN.. Ngakak parah gw! Haha ditunggu sambungannya😀

  2. grosir baju Says:

    mantap ceritanya masih lucu hehe

  3. Info Hiburan Kesehatan dan Seksualitas Says:

    Mantap nih cerita, jarang-jarang loh ada blog ginian. Salam kenal, aku tunggu komentarnya diblogku..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: