Hari kedua di kontrakan KKN

Mentari Pagi Bangun dipagi hari yang indah dengan suasana pagi yang menyejukan hati dan menjernihkan pikiran yang memang sudah sangat keruh selama ini memang menyenangkan, dan hatiku pun berkata “Hari ini bakal jadi hari yang indah, pokonya hari ini guwah banget dah”. Pikiran keruhku yang telah jernih pun memberikan suatu gagasan yang menyehatkan dengan memberikan ide untuk jalan-jalan pagi, hatiku pun berkata “Betul juga, siapa yang akan melewatkan pagi seindah ini hanya dengan tidur dikasur empuk dengan selimut yang hangat sambil menghimpit bantal guling yang menyebabkan kita bermimpi indah yang gak karuan, dan menyebabkan kita untuk malas mandi nantinya dan hanya ingin tetap bermimpi untuk selamanya”.

Kaki indahku melangkah keluar kamar kontrakan dengan melalui pintu yang sering aku lewati kala aku masuk kedalam kamar kontrakan untuk tidur dikasur empuk dengan selimut yang hangat sambil menghimpit bantal guling dan bermimpi yang indah itu pun terus melangkah hingga ke pintu keluar kontrakan yang kebetulan pintu itu juga yang berperan sebagai pintu masuk kedalam kontrakan.

Tapi keadaan berkehendak lain, kenapa??? karena seindah apapun rencana dan impian kita dalam angan-angan pada kenyataannya tidak akan seindah itu. <bingung kenapa ceritanya begini? baca dulu cerita sebelumnya dibawah ini>.

Kembali kecerita. Tentunya kaki indah harus diberi alas kaki yang indah pula agar kaki indah tidak mudah cepat rusak selama pemakaian, maka otak pikiranku pun bertindak dengan cepatnya untuk mencari alas kaki yang indah pula agar kaki ku yang indah ini tidak cepat rusak. Lama, lama, dan lama aku mencari dalam keheningan pagi yang memang sang surya belum memberikan sinarnya yang terang dan hangat untuk membantuku mencari alas kakiku yang indah itu. *Sandal indah ku <*mulai dari sini alas kaki diganti sandal> ternyata tidak ada di depan pintu masuk ke kontrakan yang sekaligus berfungsi sebagai pintu keluar itu, hati kecilku yang berbeda pendapat dengan hati besarku itu pun berkata
“Ah, mungkin dipake buat kehalaman belakang kontrakan ma temen yang lain”, kaki indahku pun melangkah ke halaman belakang dengan diikuti pandangan tajam ku kesegala arah dan penjuru, hati kecilku itu pun berkata “Lho ko gak ada ??”, mata tajamku pun terus mencari kesegala arah tak henti-hentinya, ternyata apa yang dirasa oleh hati besarku itu benar, *dia <*dia yang dimaksud disini adalah hati besar> berkata.

Hati Besar : “jangan-jangan sandalkuh ada yang nyuri??”
     -tanpa aba-aba hati kecilku pun menjawab.-
Hati Kecil : “Ah masa sih??” <dengan nada heran>
     -seolah tak mau kalah, hati besar menegaskan.-
Hati Besar : “Iyah, coba aja telaah lagi” <dengan nada sedikit tegas>
                        “Sandal tidak ada di depan pintu masuk kontrakan, juga tidak ada di halaman
                         belakang”

Hati Kecil : “Iyah juga yah” <dengan wajah sedikit serius>
     -hati kecil melanjutkan dengan memberikan saran.-
Hati Kecil : “yah udah kita liat lagih ke depan pintu keluar kontrakan”

Kaki indahku pun melangkah kedepan pintu keluar kontrakan yang berfungsi ganda sebagai pintu masuk itu, pada saat itu awan tak berbenturan dan mengeluarkan suara bergemuruh yang dikenal dengan petir dan tak menurunkan air hasil uapan dari laut dan dari penguapan lainnya seperti hasil mimpi indah gak karuan kita semua yang ada di bumi ini yang lebih dikenal dengan Air Hujan, tetapi kenapa aku malah tercengang?? ternyata benar apa yang dikatakan hati besar kalau sandal indahku itu telah dicuri oleh orang tak bertanggung jawab yang kebetulan mempunyai profesi sebagai pencuri. Teringat dengan nasehat kakek nenekku klo kita dalam masalah cobalah untuk tidak panik dan tetap tenang, diriku pun mencoba untuk tidak panik dan tetap tenang.

Hati besar dan hati kecilku tidak begitu diselimuti rasa amarah yang mendalam saat itu ketika mengetahui sandal kesayangan hasil dari keringat kedua orang tuaku mencari uang untuk membelikannya hilang, walaupun si hati kecil tetap menyimpan rasa kesal dan terus menggerutu, untung saja kebijaksanaan hati besar dapat menenangkan gerutu si hati kecil.

Hati Besar : “Udah Cil gak usah menggerutu kayak gituh, mungkin orang itu lebih
                         membutuhkan sandal itu daripada kaki indah”

     -hati kecilku pun menjawab dengan nada menggerutu.-
Hati Kecil : “Iyah tapi tadinyahkan kitah mau jalan-jalan pagi”
     -hati besar menenangkan.-
Hati Besar : “Udah lah gak usah diperpanjang”
Hati Kecil : “Yah udahlah gak apah-apah klo *Kang Besar bilang gitu”
<*kang besar adalah sebutan atau nickname atau panggilan dari si hati kecil untuk hati besar>

Tak seperti biasanya, kali ini si pemikir cepat yang berada di control room yang lebih dikenal dengan nama otak ikut mengajukan pendapatnya “Yah udah pake sepatu ajah”, maka diriku pun bergegas melihat ke bawah atau kolong kursi sofa yang terasa empuk namun berusia lanjut atau sudah tak cukup layak untuk dipakai dua orang duduk bersamaan diatasnya yang ada di depan kontrakan, kenapa mata tajam ku harus melihat ke bawah sofa?? karena aku memang menyimpan*nya disana <*nya yang dimaksud disini adalah sepatu sporty>. Namun apa daya tak berguna dan tak kuasa mata tajamku tak melihat sepatu sporty yang telah aku simpan di bawah sofa empuk berusia lanjut itu, aku pun tercengang kembali untuk yang kedua kalinya, walaupun ketika itu tidak ada awan bertabrakan yang menghasilkan petir dasyat atau menurunkan air hasil uapan dari air laut dan kawan-kawan itu yang menjadikannya hujan, mata tajam ku melihat kesegala arah untuk memastikan namun sepatu sporty hasil dari keringat darah dan cinta kedua orang tuaku pun telah lenyap digondol pencuri yang tak bertanggung jawab yang kebetulan juga mengambil sandal indahku itu. Si bijak kali ini tidak tinggal diam dan kehilangan kebijakkannya.

Hati Besar : “Gilah banget tuh orang, udah ngambil sandal eh sepatu juga ikut diembat”
     -tetapi kali ini hati kecil berlaku bijaksana dikarenakan mengingat petuah nenek
      sebelumnya “jangan panik dan tetap tenang”
Hati Kecil : “Udah lah Kang Besar gak usah dipanjangin.”
Hati Besar : “Yah udah lah kalau Dik Kecil bilang jangan dipanjangin mah, Kang Besar ikut
                         ajah.”

Hati besar dan hati kecil memang sudah merelakan sandal indah dan sepatu sporty itu dicuri orang tak bertanggung jawab, tetapi berbeda dengan si pemikir cepat kita, dia teramat kesal membara tak terpadamkan oleh kata-kata sehingga menjadikannya keruh kembali, dia pun mengeluarkan gerutunya “Lalu untuk apah kita bolak-balik kesanah-kemarih kesinih-kesituh kalau tidak menemukan sandal dan sepatu indah sporty untuk jadi alas kaki indah kita??” pemikir cepat pun bertanya “Lalu apa yang akan kita perbuat sekarang???” tanpa suara terdengar oleh ke dua buah daun kuping telinga, kaki indah pun melangkah masuk melewati pintu masuk yang juga pintu keluar kontrakan dan terus lurus menuju ke pintu masuk dan keluar kamar tidur, untuk tidur di kasur empuk dengan selimut yang hangat sambil menghimpit bantal guling yang menyebabkan kita bermimpi indah yang gak karuan, dan menyebabkan kita untuk malas mandi nantinya dan hanya ingin tetap bermimpi untuk selamanya. <mamat, ehh tamat maksudnya>

Pesan:
Ingat kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat si pelaku semata, tetapi juga karena ada kesempatan dan suasana sepi yang mendukung terjadinya kejahatan dan tidak adanya orang yang melihat dan tentunya ada barang yang akan dicuri oleh pencuri itu sendiri. waspadalah, waspadalah, waspadalah, don’t panic and stay cool. ^_^

~ Cerita ini diambil dari kisah nyata yang terjadi di kontrakan KKN Fauzi-kun ~
<25 july 2009, 05:30 WIBB (Waktu Indonesia Bagian Bandung)>

10 Tanggapan to “Hari kedua di kontrakan KKN”

  1. abeecdick Says:

    salam kenal gan,🙂
    ikut nimbrun nie.😀
    kayaknya pertamaxxxxxxxx nie….

  2. Fiya Says:

    Lgi kkN????

    Aku jugaaaaa

    salam kenal yaa

    tukeran link yiiiiiuuuukkkkk

  3. KangUsup Says:

    sebuah pengalaman
    🙂
    salam hangat penuh kasih

    • fauzikun Says:

      pengalaman yang pahit (kehilangan barang) dan kenangan manis bertemu dengan teman baru dan tidur dibawah satu atap selama sebulan, benar-benar kenangan indah, hehe🙂

      salam hangant juga gan🙂

  4. Gifta Alvina Says:

    KKN membawa banyak kenangan dan hikmah. Dulu saya KKN di sukabumi selatan, meskipun cukup terpencil tapi seru bisa jalan-jalan

  5. Harry Says:

    huahaahahah…..ngaco….!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: